Inilah 6 Kalimat Ampuh ‘Senjata’ Pengemudi saat Kena Tilang oleh Polisi

Inilah 6 Kalimat Ampuh ‘Senjata’ Pengemudi saat Kena Tilang oleh Polisi
Inilah 6 Kalimat Ampuh ‘Senjata’ Pengemudi saat Kena Tilang oleh Polisi
Bikinheboh.web.id – Terkena tilang memang sungguh menyebalkan bukan? Bahkan secara umum “tilang” inilah yang membuat masyaratak sampai begitu membenci polisi. Pikiran itu kelihatannya telah menjadi dasar dan menurun sampai ke anak-anak kecil, bahwa polisi identik dengan “tilang” dan “minta uang”.

Padahal tidak sedikin juga penilangan dilakukan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Hanya saja masyaratakat belum sepenuhnya menyadari manfaat dari semua itu.

Nah, mungkin diantara kamu yang membaca artikel ini, pasti sudah pernah terjaring razia atau kena tilang bukan? Atau setidaknya pernah melihat dan mendengar teman kamu yang ditilang. Tentu saja saat kena tilang itu kamu akan melakukan pembelaan diri. Kira-kira kalimat “senjata andalan” pembelaan diri berikut ini sudah pernah kamu lakukan belum yaa?

Saya cuma ngikutin yang depan ko pak

Kalimat ini biasa terlontar ketika pengendara melanggar lampu lalu lintas (lampu merah). Biasanya beberapa pengendara mengikuti kendaraan yang di depannya tanpa memperhatikan pergantian lampu lalu lintas. Lantas, kalau kamu bilang “cuma ngikutin kendaraan di depan”, terus dimaafin? Tentu saja tidak!

Saya lagi buru-buru, keluarga saya meninggal, teman saya kecelakaan, dll

Alasan klasik selanjutnya ialah buru-buru karena ingin menghadiri sesuatu yang sangat krusial. Tentu saja ini bukan alasan untuk melanggar aturan yaa. Kalau melanggar aturan dan lalu kena tilang, tentu saja akan menghambat perjalanan ke tempat tujuan. Walaupun alasan yang kamu berikan cukup mengoyak emosi pak polisi.

Saya cuma pengen ke situ, deket kok pak

Yang lupa atau sengaja tidak pakai helm beginilah alasannya. Lalu berjumpa dengan polisi dan mereka akan berkata, saya Cuma kesitu lho pak, deket ko.

Maaf Pak, saya nggak lihat

Alasan ini biasanya diungkapkan oleh pelanggar rambu-rambu lalu lintas. Macam rambu tidak boleh parkir atau tidak boleh stop. Mungkin musti pakai kacamata dulu yaa baru bisa liat rambu lalu lintas dengan jelas.

Tilang di sini aja ya pak

Ini biasanya dicuapkan oleh orang yang telah mengakui kesalahannya saat berkendara, tetapi tidak mau menuggu sidang yang masih lama. Sebab, sidang biasanya 2 minggu setelah terjadi penilangan. Kalau mau ikut sidang, kamu akan dapat surat tilang, terus pak polisi akan tahan salah satu keperluan berkendara kamu, entah itu STNK atau SIM.

Boleh saja jika tidak ingin mengikut sidang, yaitu dengan menggunakan system tilang online (jika system ini sudah ada di kotamu). Kamu tinggal kirim saja biaya tilang kamu ke nomor rekening yang diberikan.

Damai aja ya pak

Nah, ini biasanya kalimat yang paling sering digunakan oleh pengendara yang ingin berbagi “uang damai” dengan pak polisi. Inilah kalimat orang yang malas juga ikut sidang. Karena tidak ingin menunggu lama, karena sidang lamanya dua minggu lagi setelah ditilang, maka terjadilah aktifitas dan perbuatan yang tidak semestinya. Biar STNK atau SIM-nya aman.

Artinya, dengan kalimat ini kamu mau nyogok polisi. Sebetulnya ini juga tergantung dari keteguhan si pak polisi yaa, kalau pak polisinya teguh dengan kejujurannya, pasti dia tidak akan tergiur. Tapi kalau pak polisi ini agak sedikit yah gimana gitu, kamu taulah! Pasti “uang damai” ini diterima.


Kira-kira itulah kebanyakan kalimat yang sering diucapkan oleh pengendara yang terkena tilang. Semuanya dilakukan untuk agar bisa lolos dari tilang.

Kalau kamu sebagai warga negara yang taat hukum, maka kamu tidak perlu bersusah payah untuk membujuk polisi agar tidak ditilang. Maka cobalah berkendara dengan benar, lengkapi atribut berkendara, bawa surat-surat kendaraan kamu, perhatikan rambu-rambu lalu lintas. Dengan begitu pasti kamu akan terbebas dari tilang.

Polisi menilang juga tujuannya baik kok. Alasannya agar aturan dan hukum tetap ditagakkan dan agar pelanggar lalu lintas menjadi jera, sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.